Minggu, 21 Desember 2008

Kota di Tengah Hutan, Tapi Amat Bersih Laksana Taman Syurgawi

Yang Bisa Dipetik dari Bogor Sebagai Oleh-oleh untuk Jambi (1)

Dari 9 sampai 12 Desember lalu, lima duta budaya Jambi yang salah satunya adalah Posmetro Jambi turut ikut larut dan hanyut dalam helatan kebudayaan akbar yakni Kongres Kebudayaan Indonesia di Kota Bogor Jawa Barat. Selain setumpuk rekomendasi kongres, ada pula banyak pengalaman menarik lainnya yang bisa kami petik dan bawa pulang ke Jambi, sebagai oleh-oleh penebus kepercayaan yang telah diberikan segenap warga Jambi kepada kami. Inilah beberapa kuntum diantaranya.

YUPNICAL SAKETI, JAMBI

Memasuki Kota Bogor nuansa dan suasana lain langsung dirasakan Posmetro Jambi. Maklum Kota Jambi memang teramat berbeda kondisi dan tifografinya dengan Bogor. Kalau Kota Jambi adalah ‘kota kemarau’ yang berhawa panas, Bogor adalah ‘kota kabut’ yang teduh, ‘kota hutan’ yang rindang.

Kalau kota Jambi adalah ‘kota transit’ para ‘musafir’, maka Bogor adalah kota istirahat para pekerja dari Jakarta. Tapi kesamaan diantara keduanya adalah soal ukuran luasnya, keduanya agaknya sama luas. Jadi, siapa tak tercengang mendapati suasana dan nuansa lain yang teramat beda dan teramat berasa. Mendapati Bogor ternyata adalah menemukan sebuah kota yang berdiri megah di tengah lebatnya hutan belantara.
Kerindangan dan keteduhan begitu terasa di setiap tempat. Pohon-pohon pelindung kota bediri kokoh menjulang seperti raksasa hijau pelindung kota. Entah sudah berapa ratus tahun mereka tumbuh di situ. Batangnya yang berotot kekar diserabuti lumut nan hijau dan lembab. Di situ anak-anak terlihat asyik bermain ayun-ayunan layaknya Tarzan. Akar-akarnya seperti menjuntai dari langit. Siapa tak terpana mendapati itu.

Dikota di tengah hutan itu pula berdiri sebuah istana. Ya itu istana kepresidenan yang lainnya selain istana negara di jakarta tentunya. Istana ini berikutnya telah mempertegas pula esensi atau keberadaan kota ini sebagai ‘kota istirahat’. Dan sebutan itu masih berlaku hingga kini, ketika zaman semakin memepet manusia dengan segala aktivitasnya yang komplek dan pelik di kota-kota besar lainnya di bawah sana seperti Jakarta, Bandung atau semarang.

Lalu yang semakin membuat kami tercengang adalah ketika mendapati betapa Kota itu benar-benar adalah kota yang bersih, bahkan teramat sangat bersih. Ruas jalan yang umumnya kecil-kecil, tidaklah sampai selebar dan seluas jalananan di Kota jambi, justeru terlihat teramat bersih.

Aspalnya terlihat hitam mengkilap, seperti baru saja dipel. Padahal kjalau melihat kenyataannya kota di tengah hutan yang dirindangi pepohonan raksasa berdaun lebat itu logikanya pula pasti akan banyak sampah dedauanan berguguran di bawahanya, Tapi rupanya tak terlihat adalah sehelai daun pun terserak sia-sia di jalanan kota yang sempit-sempit itu.

Ya, Mungkin memang embun yang basah dan renyai gerimisi yang selang satu jam sekali terus turun di situ telah turut membantu membasuh jalanan itu hingga terlihat selalu bersih. Tapi ternyata bukan karena itu semata kota itu nisa begitu bersih rapi mengkilap laksana taman syurgawi itu. kebersihan kota rupanya sudah menjadi perhatian dan kesadaran segenap warganya.

Bayangkan saja, ketika baru saja selembar daun terlepas dari tampuknya dan jatuh melayang ke jalanan, belum lagi daun itu sampai meyentuh aspal dari tiga penjuru tiga orang petugas bersenajatakan sapu dan serokan sudah berlari seakan ingin berebut sehelai daun kering itu, untuk berikutnya dipindahkan tempat sampah yang tersedia di hampir setiap ruas jalan.

Siapa tak berdecak kagum melihat etos kerja dan tanggung jawab besar yang ditunjukkan petugas kebersihan itu. mereka berlomba dan bahkan bersaing untuk membersihkan jalanan kotanya. Sungguh beda dengan Jambi, petugas kebersihan entah di mana, tempat sampah entah di mana.

Lalu, kita masih berkutat seputar jalan. Di kota yang pernah dijejak presiden Amerika serikat George W Bush bebeapa waktu lalu atau serombongan pemimpin dunia semasa anggota APEC semasa kepemimpinan presiden Soeharto dulu. Meskipun jalanannya kecil dan terlihat sempit-sempit, seperti jalan lingkungannya saja kalau di Jambi, tapi selain bersih jalanan itu samasekali tidak telihat ada atau pernah berlubang.
Buktinya tak terlihat ada sedikit ada tambalan aspal jalanan yang berliku turun naik bukit itu. semua seakan tidak pernah ada yang retak apalagi sampai rusak, bergelombang seperti rambut keriting, atau jadi kubangan kerbau dan badak seperti jalanan di Kota Jambi.

Ya mungkin saja, karena di situ ada istana negara maka pemerintah senantiasa mengucurkan dana besar untuk pembangunan dan pemeliharaan jalanan kotanya. Pasalnya tentu saja pemerintah tidak mau sampai malu pada para tamu negara yang diboyong bersantai ke situ.

Tapi ternyata bukan hanya karena itu. masyarakatnya sendiri juga terlihat begitu peduli dengan kondisi jalannya. Mereka begitu mematuhi peraturan lalulintas. Tak ada kendaraannya yang ovr kapasitas berlalu di atas jalanan itu. jangan muatan mobil, orang boncengan tiga naik motor saja tidak terlihat kecuali bersama anak kecil.

Ditanya mengapa begitu, jawab mereka begitu santai tapi jujur, karena mereka tak mau jalanan kota mereka rusak hanya karena motor mereka berlebih muatan. Sungguh luar biasa.
Lalu menilik ke sisi setiap jalan. Di situ got, selokan atau pun drainase, terlihat teramat bersih. Tak ada kotoran atau sampah yang nyangkut di situ. Begitu juga halnya dengan sungai dan anak sungai berbatu yang berair jernih melintasi kota mereka. Tak telihat samasekali ada sampah di situ, apalagi jamban pemandian MCK seperti di sungai dan anak sungai di Kota Jambi.

Memasuki pasar tradisionalnya, pemandangan bersih juga masih terlihat. Pasar itu sepertinya baru saja disapu petugas, padahal kesibukan di situ tak lebih tak kurang samalah dengan di pasar angsdouo Jambi. tapi di situ ada sampah yang sampai menimbulkan bau, sehingganya para turis bule pun mau berbetah-betah berbelanja di situ. Sungguh luar biasa.

Nah, setelah begitu, bagaimana dengan mun Jambi. masih soal kebersihan kau akan menyibukkan diri perihal perlu tidaknya menggunakan jasa pihak ketiga seperti yang terjadi belakangan ini. toh soal kebersihan bukanlah semata terletak pada siapa yang harus mengelolanya, tapi melainkan perihal karekter setiap individu masyarakat dan negerinya sendiri.

Seperti Bogor, sedari dulu mereka memang berkarekter hidup teratur dan bersih. Masih tak percaya, baiklah besok kita beberkan kisah lainnya yang berhasil kami petik dari kota hutan itu. sekian untuk saat ini.***

5 Budayawan Jambi Bertolak ke Istana Bogor

Ikuti Kongres Budaya Nasional Bersama Presiden SBY

KOTAJAMBI-Berbeda dari penyelenggaraan sebelum-sebelumnya keikutsertaan Jambi pada helatan Kongres Budaya, tidak pernah diekspos sedemikian rupa, bahkan boleh dibilang minim ekspos. Tahun ini pada penyelenggaraannya di Kota Bogor Jambi kembali mengirim utusan atau dutanya.

Kali ini Jambi mengirim lima orang seniman atau budayawannya dari berbagai latar belakang seperti yang dikehendaki oleh Panitia Penyelenggara Pusat. Kelima duta yang dinilai punya kredibilitas guna mewakili bidangnya masing-masing itu adalah para tokoh seni dan budaya Jambi yang sudah tak asing lagi dikenal publik.

Mereka adalah DR Sudaryono mewakili kalangan akademisi yang juga sastrawan, lalu Jafar Rasuh dari Disbudpar mewakili Pemprov yang juga seniman rupa dan budayawan. Suroso dari kalangan Birokrat yang juga seniman musik musik. Yang lainnya adalah Sakti Alam Watir yang merupakan pemerhati dan tokoh masyarakat seni Jambi, serta Yupnical Saketi mewakili kalangan pers dan media yang juga seniman Jambi.

Menurut kabar para duta budaya ini akan berbaur dengan puluhan duta dari daerah lainnya di Istana Negara Bogor, tempat yang beberapa waktu lalu dikunjungi Presiden Amerika Serikat (AS) yang kontroversial George Walker Bush, karena menurut jadwal panitia pada 9 Desember ini akan digelar acara pembukaan yang dilakukan langsung oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Helatan ini sendiri menurut jadwal panitia akan berlangsung sampai 12 Desember mendatang. Selama di helatan, para duta budaya daerah tersebut bakal berjibaku dalam agenda yang teramat ketat dan padat. “Hanya saja pada tanggal 10 kita akan disuguhi pertunjukan berbagai kesenian daerah dari pagi sampai malam. Selebihnya adalah agenda seminar dan sidang,” demikian diungkapkan Mas Suroso yang bertindak selaku Juri Bicara (Jubir) kepada Posmetro Jambi kemarin.(c@l)

Program Kebersihan Belum Bisa Efektif Kalau Tanpa Solusi Zonasi

Wako Pulang, Lapak Kembali Centang Prenang

KOTAJAMBI-Aksi Turun langsung membersihkan Kota Jambi dari sampah yang rajin dilakoni pasangan Walikota (Wako) dr Bambang Priyanto dan Wakil Walikota (Wawako) Sum Indra pasca dilentik beberapa waktu lalu, ternyata belumlah bisa efektif benar merubah prilaku masyarakat.

Buktinya, di bebeapa kawasan yang sudah disatroni keduanya guna ditertibkan ternyata samasekali belum mampu merubah kondisi ril kawasan bersangkutan. Pasalnya, baru saja bebeapa waktu Wako atau Wawako menyingsingkan lengan baju di situ membersihkan sampah-sampah berserakan serampangan.

Lalu sampai hampir bebuih muutnya memberikan wejangan kepada Pedagang Kaki Lilma (PKL) dan masyarakat setempat tentang arti pentingnya menjaga kebersihan ternyata samasekali belum bisa memberikan pemahaman yang berarti terhadap misi positif sang pemimpin baru tersebut.

Boleh dibilangm, belum seberapa jauh sang pemimpin berlalu dari tempat tersebut, berikutnya sudah ada lapak-lapak yang sebelumnya sudah disingkirkan atau dihancurkan itu kembali berdiri di tempatnya semula.

Semakin kentara ketika beberapa hari berikutnya saat masyarakat sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari raya Idul Adha, ketika pada saat yang sama tak ada lagi petugas yang mengawasi, lapak-lapak lainnya pun sudah kembali tumbuh subur di situ. Seperti spora jamur di musim penghujan. Kawasan itupun sudah kembali ke bentuk sediakalanya, centang prenang seperti kapal pecah.

Leihat saja di sepanjang Jalan Patimura yang disatroni Sum Indra bersama Pol PP malam-malam, lalu pasar Angsoduo, dan terakhir Pasar Baru Talangbanjar, kondisinya kini seakan tak ada beda ketika sebelum dan sesudah dibersihkan Wako.

Ditanya Posmetro Jambi, para pedagang itu malah dengan enteng memaparkan jawaban yang benar-benar masuk logika. “Nak pindah kemano Pak, orang nak lebaran haji kito butuh duit tuk biso beli daging, soalnyo kupon dak dapat sikok pun,” alibi seorang pedagang.

Hal senada pun diungkapkan oleh PKL dan masayrakat lainnya. Ditegaskan mereka, pihaknya bukannya tidak mau mematuhi dan mengikuti apa yang diinstruksikan Walikota, akan tetapi kondisilah yang terus memaksa mereka untuk tetap berjualan dan berjuang dfi tempat itu.
Mereka harus mempertahankan hidupnya, dari untung jualan yang hanya 10 atau 20 ribu rupiah sehari itu. Teramat klise memang, tapi juga sangat masuk akal.

Mereka menyambut baik misi Pemerintah Kota (Pemkot) menjadikan Kota Beradat Jambi jadi kota yang bersih dan rapih, tapi seyogyanya demi berjalan lancarnya program itu, pemerintah sudah menyiapkan solusi berupa tempat atau zonasi khusus bagi mereka untuk berjualan. “Kareno kalu tanpa itu, tak kan biso berjalan efektif, Pak,” alasan mereka berkilah.(c@l)

Masyarakat Budayanya Sudah Mandiri, Sudah Jadi Subjek Bukan Lagi Objek

Pelajaran Berharga dari Wakatobi yang Sukses Bangun Kebudayaannya

Sepulang dua duta budaya Jambi pada helatan Festival Tradisi Lisan Internasional (FTLI) VI yang berlangsung di Wakatobi Gorontalo sepekan lalu, Nukam Ss dan ‘Tumenggung’ Firdaus ‘Tan Malaka’ langsung disamperin Posmetro Jambi di Kantor Bahasa Jambi KBJ) kemarin.

YUPNICAL SAKETI, KOTA JAMBI

Adalah rentetan kisah menarik yang bisa jadi pelajaran menarik bagi Jambi yang tengah masih belajar membangun kebudayaan negerinya sendiri ini, adalah oleh-oleh paling bernas paling bernilai dari Wakatobi sebuah kota kabupaten di provinsi pemekaran yang masih teramat muda belia seperti Gorontalo yang teramat pantas disuguhkan bagi publik seni dan budaya Jambi ini. Apa saja itu, berikut petikan beberapa diantaranya yang pasti akan terasa manis untuk dicicipi bersama.

“Ada banyak sekali pelajaran dan pengalaman menarik yang sejatinya semakin bermakna semakin bernilai guna kalau dibagi-bagikan kepada segenap saudara kita di sini,” kata Nukman memulai kisahnya sembari menyuguhkan sebungkus oleh-oleh berupa panganan ringan di meja. Waktu itu Firdaus sendiri belum hadir di situ. Dari SMS yang dikirimnya dia mengatakan masih dalam perjalanan kaki dari Taman Budaya Jambi (TBJ) menuju KBJ saat itu.

sembari menunggu kehadiran sang aktivis seni budaya Jambi yang di Wakatobi duduk sejajar dengan sederetan profesor dan doktor dari berbagai penjuru tanah air bahkan dunia itu, Nukman nyantai mengurai cerita, yang terkadang terasa mampu membengkakkan dada karena rasa bangga dan haru, terkadang juga terasa lucu bahkan sesekali miris dan terasa menyayat-nyayat sanubari.

Bagaimana tidak lucu namannya ketika kedua duta Jambi yang kesehariannya memang dikenal selebor dan slengean itu sempat bingung mematut gaya penampilan. Antara harus pakai sepatu apa sandal di helatan internasional itu.

“Saya menyuruh Pak Firdaus pakai sepatu karena dia pemakalah. Itu tentu sangat menganggu baginya karena di luar kebiasaan kesehariannya. Apalagi ketika dia sudah memakai sepatu saya malah mengganti sepatu saya dengan sendal, jela saja dia gondok, apalagi ketika penampilan dengan sandal itu rupanya mendapat apresiasi luar biasa dari publik sana yang menganggap betapa berseahajanya Jambi dengan kesederhanaannya,” kisah Nukman.

“Tapi yang paling berkesan dan membuat tercengang semua orang bahkan Bupatinya sendiri, adalah ketika kita mendapati betapa ramainya helatan yang dilangsungkan di lapangana terbuka itu oleh berbagai aksi dan atraksi kesenian tradisional masyarakat setempat,” sela Firdaus yang tiba-tiba sudah nongol di pintu ruangan bersama sang ‘tunangan’nya Aprileni SPd saat itu.

Wartawan harian ini bersama penggiat Komunitas Musikalisasi Puisi (Kompi) Indonesia-Jambi Ide Bagus Putera yang hadir saat itu pun langsung bergegas menyalami lelaki 40-an yang saat itu tampil rada neces tanpa jenggot dan cambang, apalagi saat itu dilehernya terlihat melilit slayer unik bercorak kotak-kotak warna merah dan putih seperti kain sarung yang bertuliskan ‘WAKATOBI’.

“Di sana kita mendapati betapa masyarakat budaya di situ sudah begitu mandiri. Mereka sudah berlaku sebagai subjek dalam pembangunan kebudayaan menyeluruh, bukan lagi objek seperti yang kerap terjadi selama ini. bayangkan saja, kita pikir apapun yang disuguhkan di situ saat itu adalah ramuan agenda atau materi acara yang sudah dikondisikan oleh panaitia penyelenggara dalam hal ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wakatobi, ternyata kesemua itu adalah hasil karya inisiatif dari kemlompok dan individu masyarakat itu sendiri,” paparnya.

“Bayangkan saja, Bupatinya saja dalam peidato resminya sampai menitikkan air mata karena rasa haru yang teramat sangat, karena tak menyangka partisipasi masyarakatnya sedemikian besarnya dalam memeriahkan, dan memberikan makna serta menyukseskan helatan tersebut,” timpal Nukman.

“Kita di sana memang benar-benar tak menduga bakal mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa. Bayangkan saja, helatan bertaraf internasional diracik sederhana namun amat terasa begitu membumi. Jangan bayangkan para tamu negara akan mendapat hotel untuk penginapannya di situ, kita semua diinapkan di rumah-rumah penduduk,” imbuhnya.
“Lalu, jangan pikir di sini kita akan menyantap hidangan mewah seperti menus restoran, kita semua disuguhkan kuliner asli masyarakat setempat. Sungguh itu semua sangat luar biasa. coba pikir, seminar internasionalnya saja berlangsung di atas kapal nelayan. Jadinya kita bisa seminar sembari merasakan langsung kehidupan masyarakat maritim di negeri itu sambil sesekali menikmati indahnya alam laut,” giliran Firdaus yang menimpali.

Lalu beberapa waktu berikutnya seperti berlomba lari sprint mulut keduanya pun tak henti-hentinya berkisah, sampai-sampai harian ini jadi bingung hendak mencatan yang mana terlebih dahulu.

Yang jelas kesimpulan yang pantas menjadi pelajaran berharga guna dipetik publik seni dan budaya Jambi saat ini diantaranya adalah perihal konsep pelaksanaan helatan akbar itu yang diramu dan disajikan begitu membumi dengan masyarakat pemilik kebudayaan itu sendiri.

Andai saja Jambi yang ternyata diloloskan dewan pertimbangan helatannya sebagai tuan rumah 2010 mendatang bukannya Bangka-Belitung (Babel) seperti yang telah diputuskan, maka tidak menutup kemungkinan helatan pada tahun itu akan bertemakan seputar ‘Tradisi Lisan (TL) masyarakat pedalaman’ seperti Kubu.

Pasalnya, merunut apa yang sudah dilakukan maka tematis TL Masyarakat Daratan dan Pedesaan, TL Masyarakat Kota, dan TL Masyarakat Maritim sudah diselenggarakan pada penyelenggaraan sebelum-sebelumnya.

Kalau itu jadi, maka Itu artinya Jambi idealnya amenyelenggarakan helatan itu di pedalaman rimba, mungkin itu idelanya adalah di pedalaman Bukit 12 atau Bukit 30. Para duta dari berbagai penjuru nusantara bahkan dunia akan berfestival bersama masyarakat Kubu itu sendiri. mereka akan merasakan sendiri secara langsung keberadaan tradisi dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakatnya di situ.

Itu artinya seminar di atas kapal di Wakatobi itu, kalau‘di-Jambi-kan’ maka mungkin akan sama artinya dengan menyelenggarakan seminar internasional di atas rakit bambu Kajanglako sembari menyusuri Batanghariu dari hulu sampai hilir.

“Tapi persoalannya sekarang sudah siapkan Jambi untuk melakukan terobosan seperti wakatobi itu. pasalnya kita punya SDA, SDB, dan bahkan SDM melimpah, tapi bagaimana mau mewujudkan ‘Jambi yang Mampu, Maju dan Mandiri’ kalau pembangunan kesenian dan kebudayaan masyarakatnya, sampai kini masih saja memposisikan mereka sebagi objek oleh kalangan pemerintah yang merasa merekalah yang profesional, merekalah yang paling jago memenej, yang paling tahu kondisi ril masyarakatnya,” kritik sang tokoh yang mendapat gelar ‘tumenggung’ dan ‘profesor’ Kubu dari peserta FTL Wakatobi itu.

buktinya, imbuhnya lagi, semua agenda budaya dan kesenian di Jambi saat ini masih dominan tersentralisasikan di Kota Jambi semata, seolah daerah lain tak punya kesempatan. Masyarakat pemiliki budaya itu sendiri, pun dihadirkan atas pinsip dan nilai kontrak, tampil sesaat di panggung.

“Lalu kalau di Wakatobi, ada pembuat parang yang memecahkan rekor dunia dengan karya spektakulernya berupa parang raksasa. Dan itu dia lakukan samasekali tanpa instruksi apalagi bantuan dana dari pihak manapun. Itu partisipasi murni, inisiatif dirinya sendiri yang merasa terpanggil dan bertanggung jawab untuk memajukan kebudayaan negerinya,”

Sedangkan di Jambi, tambahnya, ada banyak rekor MURI yang terpecahkan, tapi tak satupun yang esensial, terlahir dan tercipta sebagai berwujud partisipasi menyeluruh dari masyarakatnya. Semua rekor yang tercipta di Jambi adalah karena rekayasa kekuatan kelompok tertentu saja yang mengkondisikan masyarakat demi mengejar prestise dan populeritas semu milik merek dagang satu produk.

“Jadi, mana Jambi yang Mampu, Maju dan Mandiri itu. toh Wakatobi saja sudah mampu menciptakan ruang wacana kebudayaan yang begitu jumawa kepada dunia. Samasekali Wakatobi bukan labi-labi pemekaran. Entah nanti, kita lihat sepak terjang provinsi pemekaran baru lainnnya yang masiht ergolong tetangga kita 2010 nanti, Babel. Mungkinkah meeka juga akan mempecundangi kita? Entahlah,” tandas keduanya memungkas, seperti Magrib yang memungkas matahari saat itu.***

Pembangunan Budaya Masih Saja Diremehkan, APBD-nya Selalu Terkecil Masih Kena Pangkas

Mengingatkan Pemerintah Tentang Bait ‘Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya’ dalam Lagu Indonesia Raya

Jelang tutup tahun, di manapun, di lembaga apapun memang sudah jadi tradisi dapat dipastikan melakukan audit keuangan yang biasa disebut d3engan istilah ‘tutup buku’. Tak terkecuali di pemerintahan, saat ini tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tengah alot dibahas guna bisa gol jadi APBD bagi daerah dalam melakukan pembangunan selama setahun ke depan.

YUPNICAL SAKETI, KOTA JAMBI


Dari berseliwerannya angka-angka dalam nominal yang puluhan dan ratusan juta bahkan miliar itu. sebenarnya kemana saja uang itu diarahkan. Mengamalkan amanat UUD 45 dan visi misi bangsa adalah tujuan kesemunya yang seharusnya.
Sekali seminggu, setiap upacara bendera setiap Senin mereka selalu menyanyikan ‘Bangunlah Jiwa, Bangunlah Badannya,’. Tapi bagian mana yang sebenarnya sudah tampak telah terbangun.

Tapi benarkah demikian adanya, ketika ternyata sampai kini apa-apa yang telah diprogramkan pemerintah selama ini lebih banyaklah tidak pernah bisa dirasakan oleh rakyat sebagai sumber uang APBD tersebut.

Sepertinya belum ada yang bangun atau terbangun-kan, semua masih terlelap tidur dibuai mimpi mayanya yang terlalu indah tentang ‘Indonesia Raya’ yang sejatera jiwa dan raga setiap rakyatnya. Faktanya yang ada kini masihlan mereka yang ‘menderita Jiwa dan Raganya’.

Yang miskin masih terus menjerit, merintih, perpekik terkaing-kaing, penderitaan mutlak mendera hidupnya. Harga semua barang naik. Lapangan pekerjaan payah, upah teramat kecil. Sudahlah begitu bathin mereka juga menderita karena kemiskinan mental, kedangkalan emosional, keterbatasan ruang wacana, keterkungkungan wawasan dan pengetahuan. Pendidikan yang rendah. Pendeknya jiwa dan raga mereka menderita teramat sangat, parah.

Tak beda halnya dengan mereka yang katanya sudah kaya berkecukupan ekonomi keluarganya. Punya rumah beton dan bergenteng mewah, Makan bisa kenyang, tapi ternyata masih saja menderita jiwa dan mentalnya. Di mulutnya mereka memang tertawa, tapi ternyata dalam hatinya mereka merintih menahan luka. Lacurnya mereka tidak tahu apa sesungguhnya yang telah menyebabkan hati mereka terasa hancur dan luluh sehingganya harus bersedih sedemikian lara itu.

Meeka tak tahu kalau kesedihan itu mereka dapatkan dari jiwa yang kamuflase. Jauh dari sentuhan kesejatian dan keutuhan seharusnya sebagaimana eksistensinya sebagai manusia. Mereka tidak tahu lagi bagaimana semestinya untuk bisa menjadi manusia seutuhnya. Mereka kehilangan kebahagiaan hakiki, karena mereka tak pernah punya karekter, jati diri, yang sesungguhnya adalah wujud kebanggaam sejati dari seorang anak man\usia.
Mereka punya rumah gedung bertingkat-tingkat, mereka punya jembatan berlipat-lipat, mereka punya deposito bank seperti ganggang, punya jabatan sepanjang jembatan, punya segala tapi ternyata kebahagiaan hidup tidak terletak di situ. Gedung bertingkat pencakar langit itu ternyata sekeropos rumah kardus. Bunga uang deposito itu ternyata hanya sebatas gincu. Jabatan jembatan itu itu ternyata hanya jerat mengincar nyawa.
Makanya dalam pencarian kebahagiaan itu mereka mencoba mencari tantangan. Lalu mencoba korupsi, lalu terbetik ingin merasakan masuk bui, tiba-tiba ingin menjual diri, lalu mencoba mengusik tuhan. Dan akhirnya karamlah dia di lembah durjana. Sama nasibnya seperti si miskin papa.

Itu semua karena mereka mengidap kemiskinan jiwa. Mereka tidak pernah mendapat pembangunan jiwa. Mereka tidak pernah dididik mentalnya. mereka tak pernah serius belajar agama, Mereka tidak pernah mau belajar mengenal dan memahami budaya apalagi untuk jadi berbudaya. Tubuh mereka hanya terdiri dari tulang, daging dan darah. Tak ada jiwa terbangun di situ. Jadi wajarlah kalau semua merana seperti sempana yang berkibar tanpa makna.

Berkaitan dengan kondisi itulah, sudah semestinya pemerintah kini mulai menyadari diri, dan lalu mengakui, kalau sesungguhnya selama ini mereka trelah menapikan pembangunsan sisi jiwa dan mental (agama dan budaya). Selalu mengutamakan sisi badan, raga atau fisik. Melulu gedung, atau mobil dinas. Lacurnya itupun tak lebih dari dimaksudkan untuk gengsi dan prestise semata. Bahkan tak jarang karena latah terpengaruh trendi semata.

Mobil dinas selalu dianggap lebih penting ketimbang festival seni atau budaya. Revitalisasi atau pelestarian rumah-rumah kuno, mengangkat khazanah sastra, dan lain sebagainya. Bukti dan faktanya, anggaran untuk urusan kesenian dan kebudayaan selalu yang teerkecil angkanya, sedari dulu kala. Kalah melulu dari urusan ATK kantor apalagi mobil dinas.

Akan semakin menyedihkan nasibnya ketika pemerintah berniat mengadakan efisiensi seperti sekarang ini. Ketika terjadi pemangkasan anggaran maka anggaran di dinas kebudayaan adalah yang paling pertama dan terbesar jumlah dipangkasnya. Begitu informasi seorang budayawan Jambi yang menolak dituliskan namanya karena kapasitasnya yang ‘mendua’, yang ternyata juga salah seorang aparatur pemerintahan.

Seperti yang terjadi saat ini, anggaran untuk Disbudpar ternyata hanya tersisa dijatahkan 9, padahal tahun sebelumnya meeka yang terkecil hanya 35. bayangkan bisa buat apa dengan budged yang hanya sebesar itu. lebih kecil dari anggaran mobil dinas salah satu instansi yang minta bebeapa buah mobil dinas baru.

Alasan pemangkasan itu pun kabaranya teramat klise. Mereka dipangkas karena saudara mereka yakni Diknas harus ditambah jatahnya sebagaimana amanat undang-undang. Kalau begini adanya bukankah sama saja artinya dengan ‘setali tiga uang’. Pada dasarnya tak pernah ada perubahan penggaran untuk pembangunan sisi ‘jiwanya’ tadi.

Mungkin dapat dimaklumi kalau yang dipangkas adalah jatah untuk Kimpraswil. Karena Kimpraswil dan Budpar atau Diknas beda ruang lingkup kerjanya. Kimpraswil membangun ‘badanya’, sama seperti Distan, DKP, Dinkes dan lainnya. Beda sekali dengan Budpar dan Diknas.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unja sampai kini masih terus mengkritisi arah dan sasaran penyaluran dari kekayaan negeri itu. mereka gerah dengan daftar program dan proyek yang diajukan pemerintah ke para wakil rakyat di DPRD ternyata lebih banyaklah atau lebih besarlah anggaran yang diperuntukkan menyenangkan kepentingan mereka sendiri ketimbang memenuhi kebutuhan kehdiuapn rakyatnya.

Mengganti mobil dinas yang sudah ketinggalan zaman dengan mobil dinas baru ternyata masih lah menjadi streotip yang mengalahkan arti pentingnya membangun jati diri bangsa. Kalau begitu silakan bangun terus gedung, jembatan, jalan, keramba dan lahan sawit sebanyaknya, seluasnya.

Tapi ingat banyak yang akan masuk rumah sakit jiwa dan bunuh diri kalau nanti bangunan itu runtuh diserang teroris atau hama seperti koruptor, karena pasti saat itu tak ada satu pun diantara ‘rakyatnya’ yang punya rumah lain, lahan lain di jiwanaya di hatinya yang tak pernah ‘terbangun-kan’ itu. tunggu dan lihat saja nanti, sepuluh atau duapuluh tahun ke depan. Masihkan akan ada Jambi saat itu.***.

ATL Internasional 2010 Gagal ‘Landing’ di Jambi, Berbelok ke Babel

Nukman Ss: Jambi Kalah Terhormat, Babel Memang Lebih Berambisi, Kadisbudpar-nya Langsung Hadir ke Wakatobi, 2012 Harus Jambi

GORONTALO-Meski kehadiran Jambi dengan makalah dan misinya jadi tuan rumah Festival ATL Internasional 2010 sempat mengundang apresiasi mendalam dari peserta, namun pada akhirnya Jambi ternyata harus legowo dan sangat berlapang ketika misi besarnya memboyong festival tersebut ke Jambi untuk 2010 mendatang harus tertunda.

Pasalnya, rapat dewan formatur ternyata lebih memilih Bangka Belitung (Babel) sebagai tuan rumah untuk dua tahun mendatang. Banyak sedikit kondisi itu tentu saja sempat menyesakkan dada dua orang duta Jambi yang dipercayakan pemerintah publik Jambi untuk memboyong agenda besar dwi tahunan itu ke negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
“Kita tentu saja kecewa, mimpi membawa pesawat ATL Internasional ini landing di Jambi terpaksa harus buyar. Tapi apa boleh buat, kita sudah berjuang sebisa kita, habis-habisa mempromosikan Jambi dengan kesiapannya, tapi kita ternyata harus iklaskan tetangga kita Babel yang ditunjuk,” cerita Nukman Ss duta budaya Jambi itu dalam nada nelangsa.

“Semoga pemerintah dan publik Jambi yang menitipkan kepercayaannya kepada kami tidak kecewa dengan kabar berita yang akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh ini,” harapnya.
Di tambahkah Firdaus duta budaya Jambi yang lainnya, memang pada saat rapat penentuan tuan rumah itu Jambi dan Bangka Belitung adalah dua kadidat kuat. Tapi rupanya Babel jauh lebih ambisius. Buktinya guna berpromosi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Psariwisata (Kadisbudpar) Pemerintah Provinsi (Pemprov)-nya turun langsung atau hadir langsung di acara tersebut sebagai duta budaya negerinya.

“Mungkin itu yang menjadi salah satu faktor penentu atau bahan pertimbangan ekstrinsik hingganya pilihan dewan formatur menunjuk Babel. Tapi kita tidak boleh patah arang, dengan pengalaman ini, untuk dua tahun selanjutnya yakni 2012 Jambi harus jadi tuan rumah. Kenapa karena event sangat penting untuk membangun jati diri dan kebudayaan negeri guna membentuk pribadi-pribadi publik Jambi yang mumpuni untuk masa depannya. Apalagi Jambi memang memiliki kekayaan melimpah yang pantas untuk disimak negeri dan negara lain hingga nantinya bisa jadi devisi pula,” pungkas Nukman diamini firndaus.(c@l)

Kabar Langsung dari Duta Budaya Jambi

Kabar Langsung dari Duta Budaya Jambi di Arena Festival ATL Internasional di Wakatobi Gorontalo

Presentasi ‘Tumenggung’ Firdaus Pukau Profesor Antropolog Belanda, Seminar Berlangsung di Atas Kapal Pesiar

Ini Kabar langsung yang diterima Posmetro Jambi dari dua orang duta Festival Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Internasional 2008 yang berlangsung di kabupaten Wakatobi Provinsi Gorontalo semenjak 3 hari lalu hingga besok.

YUPNICAL SAKETI, GORONTAlO-JAMBI

Kemarin adalah giliran Firdaus, pemakalah dari Jambi yang mepresentasikan makalahnya ke hadapan audiens dan para tamu peserta maupun wisatawan pada festival tersebut. Diceritakan Nukman Ss salah seorang duta dari Jambi lainnya, meski harus ber-panel dengan para pemakalh lain dari Universitas Leiden Belanda yang nota adalah seorang profesor dan pakar antropolog dunia, Firdaus samasekali tidak terlihat canggung.
Bahkan menurut Nukman, meski tidak menyandang gelar akademis apapun selain nick name atau gelar sastra Firdaus ‘Fakir’ sebagai seorang penyair, Firdaus tampil dengan penuh percaya diri. Bahkan tanpa harus malu-malu, sang aktivis seni sastra dan budaya Jambi samasekali tak canggung ketika harus memperagakan isi dari makalahnya yang mengangkat perihal sistem tradisi lisan di masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) atau Kubu.

“Beliau samasekali tidak canggung ketika harus tampil bertelanjang dada tanpa baju layaknya keseharian suku Kubu seperti yang tengah dipaparkannya. Bahkan beliau tak kesulitan untuk memperagakan beberapa adegan gerak tubuh guna mepresantasikan tarian Kubu saat berupacara,” cerita Nukman via Ponselnya semalam.
“Bahkan dengan kejadian itu kini dia layak kita gelari selaku ‘Tumenggung’ Kubu seperti nara sumber dari makalahnya itu, Tumenggung Tarib dan kelompoknya. Kini ada ‘Tumenggung’ Firdaus juga lho,” selorohnya Nukman.

Sementara itu, Firdaus sendiri kepada Posmetro Jambi mengaku teramata puas dengan apa yang dipaparkananya, karena ternyata di luar dugaan mendapat apresiasi dan atensi yang teramat sangat dari audiens dan publik seerta para turis yang hadir di acara itu.
Bahkan, ceritanya, tingginya antusias audiens tidak saja terlihat dari bertubi-tubinya pertanyaan dari peserta. Panelis atau pemakalah lainnya yang seorang profesor pakar antropolog dari universitas Leiden Belanda pun ikut pula bertanya karena terpancing rasa penasarannya oleh gaya Firdaus yang amat sederhana namun bernas berisi itu.

“Panelis Profesor dari Belanda itu menyatakan sangat tertarik dengan keberadaan suku Kubu seperti yang di makalah saya itu. dia bahkan menyatakan akan mengajukan proyek penelitian ke universitasnya dan dua pemerintahan yakni Belanda dan Indonesia sendiri. hal ini tentu saja sebuah presden positif bagi Jambi,’ ungkasp Firdaus Bangga.

Di sisi lain, baik Firdaus mau pun Nukman juga menceritakan tentang helatan yang ternyata sangat unik itu. festival itu sendiri dilangsungkan di atas Kapal Ferri wisata yang tengah berlayar di atas laut lepas. Hal itu berkaitan pula dengan tema yang diangkat panitia yakni tradisi lisan masyarakat pantai wakatobi. Firdaus sendiri kemarin bahkan mengaku sangat surprise dengan seminar internasional yang dilangsungkan di atas kapal tersebut.

“Saya langsung ingat tentang pernjanjian Renville antaraPemerintah Indonesia dan Belanda yang dilangsung di atas geladak kapal juga. Pikir saya mungkin seperti inilah suasananya ya,” cerita Firdaus.

Sungguh model itu adalah garapan yang sangat menarik dan baru yang pantas pula diaplikasi oleh Jambi yang punya Sungai Terpanjang di Sumatera yakni Batanghari. Akan sangat memungkinkan helatan serupa bisa digelar di atas rakit Kajanglako menyusuri sungai terpanjang itu dari hulu sampai hilir atau muaro. Pastilah kesannya akan sangat luar biasa.

Lalu kapan kedua duta seni Jambi itu akan kembali ke kampung halamannya bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini. menurut mereka, kalau mengikuti agenda resminya helatan memang akan berakhir hari ini. setelah berakhir semua peserta akan kembali ke negerinya masing-masing membawa setumpuk cerita tentang pengalaman dan ilmu baru yang menarik di Wakatobi, beserta setumpuk oleh-oleh lainnya pula tentunya.

“Saya mungkin akan langsung balik ke Jambi, tapi rekan Firdaus masih ada agenda penting lainnya, dia akan menghadiri pula Kongres Kebudayaan yang 10 Desember nanti dihelat di Kotas Bogor. Dia kabarnya akan transit di Jakarta saja sembari menunggu momentum itu,” pungkas Nukman yang langsung diiyakan Firdaus.***